Hanya Sebuah Blog

08/06/2009

Aku & Kamu

Diarsipkan di bawah: Cerpen — dodinp @ 4:43 PM
Tags:

Angin lembut terus menerpa muka ini dengan hangatnya pelukan dari si dia yang duduk rapi di jok belakang motor. di sepanjang perjalanan ini kami hanya terdiam hanya relung hati ini yang bicara. Sambil menyusur keramaian di sepanjang jalan di kota ini, indahnya lampu yang berwana-warni menambah sejuk hati ini.

Lega rasanya hati ini saat tahu jawaban mu yang sesuai dengan harapan, impian untuk terus terbang bersama mu semakin tertanam di hati,

“Dik, maukah menikah dengan ku….?” kataku pelan dan cemas.

Hening sesaat tanpa ada jawaban, matanya menatap tajam ke arah mata ku seperti anak panah yang melesat dari busurnya dan langsung menghujam jantung ini.

Aku kegilisah dengan kehieningan ini, aku ingin segera mendapat jawaban yang pasti …tetapi dengan suasana seperti ini, keringat secara otomatis membasahi badan ini walaupun malam itu suasanya agak dingin.

“Gimana……………? desak ku biar aku bisa menyudahi suasana tegang ini.

Jujur saja aku mulai tidak nyaman dengan suasana ini, tetapi di luar dugaan ku sambil menatap tajamnya tatapannya ia mengangguk kecil, bertanda setuju, tetapi aku belum puas dengan hanya jawaban anggukan.

“jadi jawabannya….? tanyaku lagi..

“iya…” suaran merdunya keluar dari bibirnya yang mungil.

Seperti karang es yang mencair ataupun seperti turunya hujan di musim kemarau hal itulah yang ku rasakan saat itu, selesai sudah seluruh pertanyaan yang pernah di lontarkan dan jawaban malam ini merupakan rangkuman dari seluruh pertanyaan yang pernah ada.

Aku tahu dengan munculnya komitmen ini langkah ke depan bukan hal yang ringan bagi kami, tetapi roda vespa ini terus bergulir kedepan dan terus bergulir kedepan tanpa pernah ingin kembali kebelakang, sama seperti kami untuk menuju matahari kebahagiaan yang bahagia walaupun kami tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan….terima kasih cinta.

12/05/2009

Cek Mat Ke Pasar

Diarsipkan di bawah: Cerpen — dodinp @ 10:13 AM
Tags:

Sambungan dari “GESAH CEK MAT”

 Tak lama setelah menghabiskan teh dan bakwan maka berangkatlah ia ke pasar dengan senyum kemenangan , setiba di pasar tepat di depan pedagang sayur ia mulai memainkan aksinya kembali

“Cek berapo …kangkung seiket..?” tanyo cekmat penjual sayur

“500 cek” jawab pedagang sayur ramah

“Alangke mahalnyo cek..biso kurang dak,…sebenernyo akuni dak hobi makan kangkung tapi kelinci di rumah tu kalau dak di enjuk kangkung, dak galak makan….” Lobi cek mat..

“dak pacak cek,….sudah murah nian …di tempat laen dak dapet  hargo cak ini” jelas pedagang itu..

“Iyolah ….aku ambek sekebet” sambil cekmat mengeluarkan uang pecahan 25 rupiah…

setengah terkejut pedagang tersebut “cek, ado duit lain dak………madaki pake selawean galo…”.

“Katek kando namonyo untuk makanan kelinci jugo……” jawab cek mat sambil menghitung uang tersebut sejumlah 20 buah.

 Tak lama berselang cekmat pun berjalan lagi kali ini sasaran nya toko ikan asin yang terletak di tengah pasar..

“Cek berapo kepalak balur ni..” Tanya cekmat sambil menunjuk ikan asin pedo yang ingin di belinya.

“2000 semato..” jawab pedagang ikan asin tersebut.

“be alangke mahalnyo, Cuma palak iwak cak ini, aku tu Cuma untuk makanan kucing bae di rumah tu, kalau dak makan iwak asin pedo, kucing di rumah tu dak galak makan”…jelas cekmat panjang lebar.

“itulah hargonyo”…jelas pedagang tersebut

“2000 tu sudah termasuk badan ikanyo apo Cuma palaknyo bae….” Tanya cekmat lagi.

“itu galo galonyo, kalu palaknyo bae Cuma 1000” sambil pedagang tersebut menunjuk kepala ikan asin tawar

“Sudahlah aku ambek yang kepalak iwak bae semato…..biar kucing aku galak makan..”, sambil menyerahkan uang  ke pedagang tersebut.

 

Merasa belum lengkap yang di belinya yatiu minyak goreng maka ia pun ke toko kelontongan di pojok pasar sambil merapikan letak handuk kecil yang ada di lehernya,

“ Cek berapo sekilo minyak ni…” sambil ia agak menunduk di dekat drum minyak sayur pedagang tersebut

“5000 sekilo” kata pedagang tersebut sambil sibuk membungkus minyak sayur dalam kantung ukuran 1 kilo

“ mahal cek….aku tu nak mintak dikit bae untuk kerokan untuk wong rumah ” kata Cek mat

“jadi nak berapo?” tanyo pedagang tersebut.

“mintak 1000 bae lah” kata cekmat sambil menyerahkan selembar uang seribuan dan dengan sengaja ia menjatuhkan anduk kecil nya.

“nah gawat cek, anduk aku campak ke dalam minyak itu, padahal anduk itu banyak keringat aku,….maaf cek ye..” sambil tanganya mengambil kantong asoy yang terselip di kantong jeans nya, dan memasukan handuk kecilnya yang sudah berlumuran minyak goreng tersebut.

“Maaf nian cek dak sengajo”…..sambil ia meninggalkan pedagang minyak goreng yang bengong melihat tingkah cek mat.

 

Sesampai di rumah cek mat ,

“ Dindo, masak ke hari ini tumis kangkung dan gorengan “daging’ kepalak ikan pedo….” Ujar cek mat

“ Minyak gorengnyo mano kando..?’ Tanya istrinya.

“Ini dio”..seraya menunjukan kantung kresek yang berisi handuk yang sudah basah oleh minyak goreng.

“@$#%^&&@” pikir istrinya…

Gesah Cek Mat

Diarsipkan di bawah: Cerpen — dodinp @ 10:10 AM
Tags:

Dengan nuansa tahun 80-an di kota Palembang, Bukan “lagu” baru kalau Cek Mat saat pergi kepasar akan selalu terlihat seperti memborong seluruh baraang yang ada dipasar, seperti yang terjadi hari ini sudah sejak pagi ia keluar dengan berbekal handuk kecil dan kantong kresek bermerek “Assoy” yang terselip di kantong jeans cekmat yang lumayan lusuh, tetapi sebelum kepasar Cek Mat singgah dulu ke warung kopi Cek da,  dimana warung kopi tersebut yang terletak tidak jauh dari pasar sekanak

“Cek, teh manis separo…….?’ Kata Cekmat sambil makan bakwan goreng yang masih panas, tak lama kemudian datanglah teh manis separo yang di letakan oleh Cek da.

Sambil mengaduk teh manis tersebut Cek Mat bertanya “Cek,  si Ujuk sudah datang belum ?”,

“Belum Cek..”, jawab Cek da singkat.

Sambil menghirup tehnya…..” Ai Cek, alangkah manisnyo teh ini….cuba tambah dengan air lagi ……….?”, kata Cek mat sambil menyodorkan gelas tehnya, dan Cek da dengan sigap menambahkan lagi air di gelas cek mat,……dan kembali cekmat mengaduk air teh manis nya yang sekarang penuh menjadi 1 gelas..dan meminumnya kembali…”Ai, ngapo jadi teh tawar ini…….” Serunya lagi.

“Yang bener bae cek…?’ sahut Cek da

“Iyo ….kalu kurang gulo….cubo tambai lagi, cek…” kata cek mat

dan gelas teh pun sudah berpindah tangan dan di beri 1 sendok gula oleh Cek da……

“Cek cubo tambah sesendok lagi………..” kata cek mat..

“Rugi cek kalau cak ini……….”bersungut cekda  sambil menambahkan sesendok gula ke gelas teh cek mat.

“ Ini baru mantap…..cek…..pas nian rasonyo..” sambil tersenyum cek mat setelah meminum setegukan teh tersebut.

Padahal ini hanya akal-akalan dari cek mat saja di mana karena uang nya hanya cukup untuk  membayar 2 bakwan dan separoh teh tetapi karena akal-akalannya ia bisa minum 1 cangkir penuh teh manis………dasar..cek mat “ ujung lapan lancip”.

Bersambung ke CEK MAT KE PASAR

21/03/2009

Radio 2 Band

Diarsipkan di bawah: Cerpen — dodinp @ 1:30 PM
Tags:

“Koran….koran….koran “…teriak Yudi lantang menjual dagangannya di antara bus-bus,angkot dan kendaraan pribadi yang ada di salah satu simpang empat lampu merah di kota ini.

“Mad, sepertinya uang hasil penjualan ini akan saya belikan radio 2 band kecil untuk ibu, biar ada yang menunggu ibu saat ibu pulan mencuci”..ujar Yudi,
Madi hanya tersenyum, “ada uang berapa yud..? tanya nya
“kurang lebih 75 ribu termasuk hasil penjualan koran hari ini”…kata yudi
“nanti kalau sudah cukup temani aku untuk membeli radio, ya mad”..ujar yudi bersemangat
hanya anggukan dari Madi yang mengisyaratkan kesediaannya, karena Madi juga sedang menghitung uang hasil penjualannya hari ini.

(lagi…)

06/03/2009

Mimpi Yang Indah

Diarsipkan di bawah: Cerpen — dodinp @ 11:14 AM
Tags:

Dedi dengan bangga melihat usahanya berkembang dengan bagus, walaupun usaha penjualan ATK dan fotocopynya merupakan usaha rumahaan yang di kelolah oleh istirinya, tetapi hasil yang di dapatkan dari usaha ini tidak bisa di bilang sedikit, dengan adanya mesin fotocopy dan juga beberapa peralatan lainnya, untuk menjilid dan vinil dan lengkapnya seluruh peralatan ATK membuat toko ini terkenal di perkampungan tersebut sebagai toko ATK terlengkap di kampung tersebut.

Dedi bisa menjadi orang kaya seperti ini karena mendapat ganti rugi tanahnya yang di gusur hampi sebesar 1 M, merupakan jumlah yang fantastis, dan sangat berlebih bagi Dedi di mana uang tersebut 70% nya di jadikan deposito untuk menunjang kehidupannya sehari-hari, dan sisanya di gunakan untuk membangun rumah, toko ATKnya dan membeli kendaraan, sehingga sangat jelas perbedaan antara sebelumnya yang merupakan tukang sayur keliling di kampung itu.

(lagi…)

26/02/2009

Anugrah Terindah Itu Bernama Ibu

Diarsipkan di bawah: Cerpen, Narasi — dodinp @ 8:44 AM
Tags:

Saat masih di kelas 3 SMP Negeri di kota ini, ibu guru memberikan tugas untuk membuat tulisan yang topiknya tentang “ibu”, jujur saja saat itu saya sangat bingung karena apa yang saya bisa tulis dari seorang ibu yang hanya memiliki warung kecil dan seorang istri dari pegawai negeri rendahaan, sangat berbeda dengan temanku si Hendra yang ibunya seorang Angkatan Udara yang dengan bangganya dia menceritakaan tentang pekerjaan ibunya, atau si Iwan yang ibunya seorang Dokter yang banyak membantu menyembuhkan pasien, atau si Murni yang ibunya mengelolah sebuah show room mobil di salah satu jalan utama kota ini, ataupun ibu-ibu teman sekolah ku lainnya.

(lagi…)

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.